Kayaknya 3 kata ini yang sering banget dikeluhkan orang – orang sekarang ini. Efek global warming? Mungkin … Efek manusia ga cinta lingkungan? Mungkin … Efek kesalahan manusia yang bisanya cuman ngeluh aja? Mungkin juga ….
Setiap hari, kayaknya ada ribuan orang. Bahkan ratusan ribu orang yang bilang ““Duh .. panas banget!!”” Dan, ratusan ribu orang juga yang mengutuk matahari dan kepanasan itu, plus menjadikan ini sebagai alibi untuk “ga mood karna panas”, “cepet emosi karena panas banget di luar”, atau “duh …. Males meeting ah, diluar panes… abis!” . That’s all common word in metropolitan city.
Tapi yg ga common, alias ga biasa adalah ada seorang anak kecil, yang duduk di tepi jalan, sambil memegang gitar palsu dan genjrengan bak ariel peterpan, terus menunggu dan betapa bahagianya saat lampu merah menyala. Dia adalah anak lelaki polos yang begitu membenci hujan, langit mendung, dan sangat bersyukur dengan panas dan matahari yang selama ini orang kebanyakan keluhkan. Ya, karena dia tau, HIDUP ITU KERAS BUNG! Matahari dan Panas adalah sahabat bagiku. Hujan membuatku tidak makan. Hujan membuatku tidak dapat menemukan kebahagiaan. Kenapa kita harus membenci matahari? Kenapa kita harus membenci panas? Kenapa kita harus mengabaikan kewajiban kita karna panas?
Ya, anak laki – laki polos yang baru berumur kurang dari belasan tahun, sudah mampu mencari hikmah dari sesuatu yang menyakitkan dan keras. Anak laki – laki polos, yang dikala kebanyakan orang pintar mengeluhkan sesuatu yang biasa, tapi dianggapnya sesuatu yang luar biasa menyenangkannya.
Jadi, kapan giliran kita?
Saturday, April 25, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment